2015-11-21-golongan-merah-putih

Menjadi Golongan Merah Putih Pilkada

Gema pilkada telah bergaung. Baliho dan poster mulai bertebaran di beberapa sudut strategis jalan. Gambar para calon kepala daerah saling tersenyum menyapa, seakan mengajak para pemilih untuk memantapkan hati padanya.

Beragam slogan dan janji manis para calon mengiming-imingi kita untuk menatapnya lebih lama. Berfikir dengan segala logika, membaca beberapa bait kata resolusi para kandidat untuk memajukan daerah.  Resolusi pemberantasan korupsi, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan serta beragam resolusi lainnya dikumandangkan dengan lantang. Logika bertanya, “benarkah ini resolusi nyata ataukah hanya sebuah janji belaka?”

Beberapa kawan ketika ditanya tentang pilkada menjawab dengan acuh. “Pilkada nggak pilkada, tak ada perubahan bagi daerah kita,” begitu mereka berkata. Beralih pada generasi tua, menganggap pilkada hanya sebatas ajang perebutan kekuasaan. “Akh, janji mereka hanyalah janji”. Pendidikan nan tinggi yang mereka sandang  tak menjamin sikap peduli pada demokrasi. Sikap apatis para pemilih semakin menyeruak ke permukaan. Sikap acuh menampakkan diri dalam proses demokrasi.

Pengetahuan pada calon kepala daerah sangat terbatas. Entah karena memang sosialisasi sedikit ataukah rasa malas para pemilih untuk sedikit mencari tahu para calon kepala daerah? Mungkin sebagian besar pemilih mulai bersikap acuh. Menganggap bahwa pilkada sudah tidak penting lagi. Menganggap siapa pun pemimpinnya, tidak ada perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Sikap apatis pemilih berimbas pada bertambahnya jumlah golongan putih. Golput menjadi indikasi ketidakpercayaan publik pada figur calon kepala daerah. Ketidakpercayaan berawal dari ketidakpuasan pada figur yang dicalonkan maupun partai politik yang mengusungnya.

Golput selalu mewarnai di setiap perhelatan demokrasi negara ini. Mari kita tengok presentase golongan putih pada pemilu tahun sebelumnya.  Angka golput pada pemilu 2009 mencapai 29,01 persen dengan tingkat partisipasi 70,9 persen. Penurunan golput terjadi di tahun 2014. Angka golput pada pemilu 2014 mencapai 24,89 persen dengan tingkat partisipasi 75,11 persen.

Penurunan golongan putih tentu menggembirakan. Partisipasi dan peran masyarakat dalam menentukan pemimpin mereka patut diapresiasi. Namun, apakah partisipasi masyarakat berdasar pada pilihan pribadi ataukah motif tertentu lainnya?

Tidak dapat dipungkiri, beragam kecurangan selalu ditemukan. Money politics, maupun kecurangan lainnya dapat kita temui dalam setiap pemilu. Ketidaktahuan masyarakat pada calon kepala daerah dimanfaatkan oleh oknum tertentu dalam mendongkrak suara pemilih. Kecurangan tersebut sangat mudah kita temui di daerah yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Daerah pedesaan menjadi sasaran empuk para oknum untuk melancarkan aksinya. Tipe masyarakat pedesaan yang apatis sangat mudah dipengaruhi untuk memilih salah satu calon. Bantuan baik materi maupun non-materi diberikan sebagai imbalan pemberian suara pemilih. Praktik tersembunyi yang kerap tak terdeteksi.

Partisipasi dalam pemilu patut dipertanyakan. Apakah para pemilih sadar akan pilihannya? Apakah memilih tanpa tekanan? Ataukah memilih secara acak tanpa tahu track record calon yang bersangkutan?  Sederet pertanyaan menyeruak dalam menanggapi sebuah partisipasi politik.

Perlu kiranya sebuah partisipasi politik dibarengi dengan sikap cerdas para pemilih. Pemilih yang cerdas dalam memilih. Cerdas dan bijak memilih dengan pengetahuan politik memadai.

Pengetahuan berkisar tentang track record calon kepala daerah serta visi dan misi ke depannya. Pengetahuan memadai meminimalisir pemilihan salah dalam menentukan masa depan pemerintahan selanjutnya.  Masa depan berada di tangan para pemilih. Pemilih cerdas yang nantinya menjadi golongan merah putih, bukan golongan putih maupun golongan pemilih abal-abal. Menjadi golongan merah putih yang turut menentukan nasib Indonesia kedepannya.

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *