2015-11-21 Golput NoNoNo White

Golput

Jangan tertawa kalau aku bilang namaku Golput. Memang itu nama yang tertera di Kartu Tanda Penduduk. Nama yang aneh bukan? Setidaknya bukan nama yang umum seperti Sukarjo, Agus Surono, ataupun Muhammad Abdul Hamid. Setidaknya namaku adalah nama terunik satu-satunya sekabupaten atau sepropinsi atau mungkin se-Indonesia.

Aku lahir pada satu masa di mana rusuh pemilihan umum, pada saat partai yang tadinya cuma ada tiga tiba-tiba menjadi puluhan. Merepotkan. Emakku sampai bingung, harus nyoblos yang mana? Sementara yang dia tahu sekian puluh tahun doktrin pemilu hanya coblos satu nomor itu, selamanya tanpa tahu konsekuensi pilihannya. Berulang seterusnya dan seterusnya sampai hari itu aku lahir ke dunia. Selain bingung harus pilih yang mana, tidak mungkin juga orang hamil sembilan bulan yang sudah mulas-mulas di bawa ke TPS terus dihadapkan pada kertas pemungutan suara yang lebarnya kayak taplak meja.

Beruntung Emak tidak jadi datang ke TPS, bayangkan kalau jadi dan aku lahir di area TPS apa tidak mungkin namaku nantinya LUBER? (langsung, umum, bebas, rahasia)

Menyandang nama unik itu bukan sesuatu yang mudah, kadang olok-olokan teman pun sering kuterima. Tetapi, kata bapak, nama itu perlambang, dan namaku itu adalah sebuah lambang pernyataan kaum bawah yang bingung dengan pemerintah. Tumben bapakku pintar, sampai mikir arti namaku untuk demo damai terhadap pemerintah. Kebanyakan makan ubi rebus mungkin bapak, atau kebanyakan tayangan televisi yang tiap hari berebutan dengan emak antara berita dan telenovela.

Genap berusia tujuh belas tahun aku sudah duduk di bangku akhir SMA, mengurus kartu tanda penduduk pun kulakukan. Dengan bangga kupamerkan lembaran KTP elektronikku itu pada teman nongkrongku di depan musala.

“Udah gede ternyata kamu, Put,” sindir Ulil.

“Baru ambil tadi.”

Olok-olok ala remaja masjid pun dimulai. Nama Golput lagi disebut-sebut dengan mimik pada cengengesan.

“Kenapa gak Coblosan sekalian namamu Put?”

“Atau nama partai Goldar, Gerinda, atau Mega Mendung.”

“Pasnya Pemilu tuh.”

Olokan yang sudah jadi makanan dari kecil. Semakin dewasa juga mereka tak lebih intelek dari bapak.

“Namaku itu ada misinya. Golput… itu adalah golongan kaum bawah yang protes halus pada pemerintah. Bingung pada sistem dan ingin pemerintahan berjalan lebih baik. Makanya ayo pada Golput.”

Gelak tawa membahana. Ulil, anaknya Pak Modin, tertawa terpingkal paling keras. Salah ya kalau aku mendefinisikan namaku seperti bapak menguraikan artinya? Hm… sudahlah, toh lidah mereka memang tak bertulang. Biar saja mereka bebas berujar, katanya juga ini negara dengan paham kebebasan berpendapat. Ya, biarkan mereka mau apalah, apa harus jadi uraian panjang meributkan nama keren pemberian emakku tersayang.

“Put … sudah dengar tentang Pilkada yang nantinya serentak seluruh Indonesia?”

“Sudah … kenapa?”

“Wah, seru itu nantinya. Bagi-bagi uangnya serentak juga ya?”

Jitakan mendarat di batok kepala Waluyo, ini si tukang jaga warnet pikirannya sudah lebih lebar dari empang dan lebih dalam dari Bob Sadino tentang uang.

“Lah, benar kan? Pilkada ya bagi-bagi uang. Gak ada uang mana mau aku nyoblos!” bela Waluyo sambil mengelus kepalanya yang pasti lumayan rasanya karena dijitak empat orang.

Tapi memang benar apa yang dibilang Waluyo. Sepanjang yang aku tahu dari beberapa kali coblosan akan ada bagi-bagi amplop, sembako, bahkan sarung dan kerudung orang tuaku tiba-tiba juga baru. Pagi buta sebelum Kyai Muhammad azan di musala sudah ada beberapa orang mengetuk pintu rumah membawa segepok amplop untuk dibagi-bagikan. Serangan fajar, itu istilah yang sering dipakai orang-orang sampai akhirnya makna sebuah coblosan hanya sekedar menunggu bagi-bagi uang dan barang.

Ketika pilihan kepala desa saja orang tuaku mendapat jatah perorang sampai dua ratus ribu, belum sekardus sembako, mukena dan sarung baru. Faktanya yang banyak uang yang menang. Bukan rahasia umum lagi.

“Besok pas coblosan pilkada mau pilih siapa?” tanya Ulil.

“Yang ngasih duit paling banyak lah…” jelas ini ucapan Waluyo.

Mbok mikir to Yo … kalau pemuda Indonesia otaknya kayak kamu semua kayaknya negara kita gulung tikar,” timpal Bahrul yang dari tadi diam menyimak.

“Lho… kok salah lagi. Yang mampu bagi-bagi uang itu artinya calon yang bagus. Dia kaya, punya uang dan bisa jadi pemimpin suatu daerah.” Kembali itu Waluyo berargumen.

Gak dipikir memang itu uang dari mana? Nanti setelah jadi ‘kan yang dipikir dia balikin uang yang buat beli sarungmu Yo!” Nada suara Bahrul meninggi kali ini.

“Lha, aku gak minta sarung kok. Dia yang ngasih sendiri!”

Dasar Waluyo, otaknya benar-benar tumpul karena uang sudah demikian tajam menggesek syaraf otaknya.

Topik hari itu menghangat seputar nama sejumlah calon kepala daerah di tempatku. Ada dua hal yang menarik sekarang ini dicermati. Kepala Dewan Perwakilan Rakyat tingkat II adalah seorang wanita yang suaminya adalah narapidana terkait kasus korupsi. Demikian pula dengan kepala daerahku juga seorang wanita cantik yang suaminya mantan bupati terdahulu yang sekarang juga mendekam di penjara karena korupsi. Ketika suami-suami dimasukkan ke dalam sel tahanan malah para istri cantik ini dinobatkan jadi panglima tertinggi.

“Kamu sendiri gimana, Put? Mau idealis kayak Bahrul atau kayak Waluyo yang materialistis?” tanya Ulil.

“Ini coblosan pertama buatku, karena tahun ini aku baru memiliki hak suara. Kalau ditanya mau pilih yang mana? Nanti aku juga milih.”

Gak golput, Put?” timpal Bahrul.

Gak lah… kalau aku punya hak suara pasti akan aku gunakan sebaik-baiknya.”

Tibalah hari di mana siang nanti pemilihan kepala daerah dilangsungkan. Dari kemarin sudah beberapa orang mondar-mandir ke rumahku. Tidak jauh beda dengan pilihan kepala desa, kali ini sudah ada sekardus mi instan dan seplastik beras, ada sekaleng biskuit seperti yang ada di meja orang-orang waktu lebaran lalu tiga buah kaos baru untuk kami sekeluarga. Tak lupa tiga amplop putih yang di dalamnya berisi selembar uang seratus ribuan.

“Jangan lupa pilih nomor satu ya?” Itu pesan lelaki berpeci yang aku tahu adalah tim sukses dari kubu kepala daerah lama.

Entah kenapa aku tidak begitu antusias dengan coblosan hari ini. Walau emak dan bapak sudah ribut mau ke TPS. Ada keengganan untuk pergi, aku juga masih belum menentukan pilihan siapa yang akan kujadikan pimpinan daerah. Bukan idealis atau sok nasionalis, pada usiaku sekarang tujuh belas tahun aku tidak suka dicekoki kegiatan politik semacam ini. harusnya seorang pimpinan itu dipilih berdasarkan kemampuan dia saja? Bukan berdasar banyaknya amplop yang dia berikan.

Saat aku hendak masuk ke bilik suara, aku berpapasan dengan emak yang tiba-tiba mendekat dan membisiki aku sesuatu.

“Jangan lupa nomor satu.”

Aku berdiam di bilik suara. Kupandangi dua foto calon-calon pimpinanku. Aku tak kenal keduanya, emak juga pasti tak kenal mereka. Tetapi emak menjatuhkan pilihan pada wanita yang tersenyum cantik dengan hijab hitamnya.

Haruskah menuruti pesan emak? Sekilas aku teringat pesan bapak akan arti namaku. Sungguh saat aku bingung menentukan pilihan karena keduanya sama tak baiknya, kupilih mengutuhkan kertas suaraku. Golput.

.

Gambar dari: Nobody Corp, NoNoNo

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Tari Sasha

Penulis bernama pena Tari Sasha, seorang buruh migran Indonesia di Taiwan. Menjabat sebagai ketua Komunitas Penulis Kreatif Taiwan dan jurnalis sebuah media berbahasa Indonesia di Taiwan. Penulis novel "Babu Traveler". Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *