tmp_31109-IMAG0213179847078

Melibatkan Warga, Kunci Keberhasilan Risma

Walikota Surabaya Tri Rismaharini boleh berbangga. Tahun ini, kota yang dipimpinnya terpilih sebagai Smart City 2015. Bersama Surabaya, Yogyakarta (dipimpin oleh Haryadi Suyuti) dan Magelang (dipimpin oleh Sigit Widyonindito) juga terpilih sebagai kota cerdas.

Smart city artinya kota yang bisa membangun sistem pelayanan yang efektif dan efisien, dengan memanfaatkan sumber daya kota,” jelas Yayat Supriyatna, pengamat perkotaan, dalam talkshow “Smart City dan Pembangunan Kota di Indonesia” di Hotel Le Meridien, Jakarta (25/11). Dalam membangun sistem itu, smart city mengandalkan informasi, komunikasi, dan teknologi.

Surabaya yang dipimpin Risma sangat mengandalkan teknologi informasi. CCTV dipasang di setiap sudut sarana publik–dari jalan raya hingga taman–untuk memantau kondisi. “Kita punya traffic control. Kalau ada ruas jalan yang penuh, bisa kita alihkan ke jalan lain,” jelas Risma. Traffic control di jalan juga bermanfaat untuk memantau tingkat ketinggian air untuk mencegah banjir di musim hujan. “Kalau di taman, kita juga pasang, jadi yang pacarannya berlebihan bisa ketahuan,” tambahnya sambil tertawa.

Sigit Widyonindito yang memimpin Magelang juga memanfaatkan teknologi dalam mengelola kota. “Cita-cita kita, mau bikin Singapura-nya Jawa Tengah,” ujar Sigit. Teknologi digunakan untuk memudahkan pelayanan publik, administrasi kependudukan, hingga pemeriksaan oleh Badan Pengurus Keuangan (BPK) dan pembayaran pajak secara online.

Bagi para walikota penggarap smart city, penggunaan teknologi informasi bukan sekadar supaya dilabel modern. Sebagaimana dipaparkan Risma, teknologi informasi dimanfaatkan untuk mewujudkan sistem yang bisa dipertanggungjawabkan pada masyarakat, transparan, bisa memutus KKN, dan mampu mendukung percepatan pembangunan.

Karena itu, smart city artinya bukan sekadar kota yang menggunakan teknologi semata. “Smart city beda dengan cyber city,” papar Ilham Akbar Habibie dari Dewan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) Nasional. “Tujuan akhir smart city adalah menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan dapat memberdayakan warga.” Teknologi informasi hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan itu.

Smart city dibangun untuk memanusiakan warga-warga kota,” sebut Yayat, menambahkan.

Pemimpin yang mau membangun smart city bukanlah pemimpin yang sekadar membuat kebijakan populis, tapi pemimpin yang mau turun ke lapangan dan memahami kebutuhan warga. Pemimpin yang mau membangun smart city juga harus bisa berpihak pada apa yang dibutuhkan warga, bukannya mementingkan apa yang menguntungkan investor besar. “Butuh kesamaan visi antara pemimpin dan masyarakat. Kalau ndak sama ya ndak jalan,” terang Sigit, menekankan pentingnya dialog antara pemimpin dengan warganya.

Partisipasi publik dan pemimpin yang mau memenuhi kebutuhan publik harus menjadi bagian dari pembangunan smart city. Seluruh warga mesti dilibatkan dan diberdayakan, tanpa kecuali. Akan sulit mewujudkan smart city bila pemimpin tak ingin berdialog dan rela mengorbankan hidup sebagian warga demi melakukan pembangunan sesuai cita-citanya sendiri.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

6 responses to “Melibatkan Warga, Kunci Keberhasilan Risma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *