2015-10-20-6th Financial Transparency

Korupsi dan Pencucian Uang itu Ibarat Kakak-Adik

Selama tahun 2012, terhitung ada 991 milyar USD dana gelap yang berhasil diungkap elemen antikorupsi. Perusahaan-perusahaan banyak terlibat di dalamnya, baik itu perusahan sah maupun perusahaan bodong.

Aliran dana gelap menjadi tajuk 6th Financial Transparency Conference (6th FTC) yang digelar di Sari Pan Pacific Hotel, Jakarta (20/10). Mengundang perwakilan 150 organisasi masyarakat dan 14 pemerintah dari seluruh dunia, 6th FTC mengonsolidasikan bagaimana cara pemerintah dan organisasi masyarakat berbagai negara menanggulangi hal tersebut.

Pencucian uang adalah salah satu jenis aliran dana gelap (illicit cash flow). “Korupsi dan pencucian uang itu ibarat kakak dan adik,” ucap Said Imran dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Para penyelundup yang memiliki uang dalam jumlah besar biasanya membeli barang-barang mewah seperti mobil atau rumah dengan uang gelap itu untuk menghapus jejak gelapnya.

Mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, misalnya, diketahui memiliki properti senilai 10 juta USD di London. Uang gelap itu ia peroleh selama menjabat sebagai pemimpin Libya.

Selain dicuci lewat pembelian sah, perusahaan bodong kerap juga bermain dalam pencucian uang. Perusahaan bodong adalah sebutan untuk perusahaan yang terdaftar di suatu negara, tapi aktivitas ekonominya hampir tidak pernah dilakukan di negara tersebut atau malah tidak ada sama sekali.

Sebab itu, aktivitas ekonomi perusahaan harus diaudit. Harus ada transparansi (keterbukaan) untuk bisa memastikan uang mengalir dalam jalur yang sah.

“Kita butuh kerja sama dalam menyikapi pencucian uang,” ucap Svitlana Zalishchuk, aktivis antikorupsi yang sekarang menjabat di parlemen Ukraina. “Pencucian uang adalah kejahatan transnasional. Pembuatan undang-undang di satu negara saja tidak cukup.”

Svitlana mengambil pelajaran dari negaranya, Ukraina. Sejak bubar dari Soviet di tahun 1990, pemerintahan Ukraina selalu diwarnai korupsi. Tata kelola pemerintahan yang buruk berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi yang lesu dan pasar yang tidak berjalan. Masyarakat tidak puas berkepanjangan. Di tahun 2014, masyarakat Ukraina memprotes besar-besaran pemerintahnya. Masyarakat bentrok dengan polisi, sementara Rusia menuduh protes tersebut sebagai kudeta. Tapi di tahun yang sama, pemerintahan lama akhirnya diturunkan dan dilakukan reformasi.

Meski demikian Svitlana mencatat, protes besar-besaran atau malah revolusi tidak bisa terjadi setiap hari. Yang sekarang dibutuhkan adalah agenda bersama masyarakat dan bagaimana mengawal agenda tersebut supaya tidak berhenti hanya di undang-undang, melainkan menjadi kesadaran publik. Svitlana memutuskan masuk parlemen karena sebab itu.

“Orang selalu bilang politik itu kotor. Tapi hal-hal baik bisa terjadi di politik. Yang penting jangan pernah menerima hal baik itu apa adanya. Kita harus punya tuntutan publik yang kuat,” pungkasnya.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

4 responses to “Korupsi dan Pencucian Uang itu Ibarat Kakak-Adik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *