Duterte black and white
Foto oleh: Edwin Espejo / Diolah: Pradipa PR

Duterte, Presiden “Tegas” Filipina yang Membunuh 1000 Orang Tanpa Pengadilan

Dia mengaku pernah terlibat pembunuhan 1000 orang tanpa pengadilan. Dia pernah bercanda soal kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang biarawati.

Dia, Rodrigo Duterte, adalah calon presiden baru Filipina.

Walau terlibat skandal dan kerap mengeluarkan pernyataan sembarangan, dialah presiden yang paling banyak dipilih rakyat Filipina pada pilpres Senin (9/5) lalu. Duterte meraup 5,8 jt suara lebih banyak dari pesaingnya. Ada lima kandidat yang bersaing di pilpres Filipina, termasuk Duterte.

Pertanyaannya, kenapa Duterte?

70% anggota parlemen Filipina berasal dari dinasti politik tua. Di tahun 2011, 76% pertumbuhan ekonomi dinikmati oleh 40 keluarga terkaya Filipina (BBC, 2016). Negara demokrasi tertua di Asia Tengara ini jugalah yang paling bermasalah: sudah lebih dari 50 tahun korupsi merenggut hidup warga Filipina. Skor Corruption Perception Index (CPI) 2015 Filipina adalah 35 (dari maksimal 100).

Di tengah kemuakan masyarakat Filipina dengan sistem dan politisi yang buruk, hadirlah Duterte.

Tak seperti kebanyakan politisi Filipina, Duterte berlatar belakang biasa: dia bukan bagian dari dinasti politik. Dia juga tinggal di kompleks perumahan murah. Lelaki berumur 71 tahun ini juga pernah dikeluarkan dari SMA, diusir ke kota lain, dan jadi bagian dari geng begundal.

Di tengah gemerlapnya lingkar politik Filipina, Duterte hadir seperti “orang biasa”–orang seperti Jose, seperti Maria, seperti orang Filipina lain.

Tahun 1988, Duterte menjabat sebagai walikota Davao. Davao adalah kota penuh darah yang dipenuhi pemberontak, pengedar narkoba, dan lembaga hukum korup. “Saya tahu bagaimana mereka merusak sistem,” kata bekas pengacara ini sewaktu mengingat pengalamannya di Davao, “Bahkan pemerkosa bisa berjalan bebas kalau sistem bangsatnya korup!”

Maka di kota itu Duterte tak mau hanya sekadar mengumpat kasar. Umpatan itu dia jadikan tindakan: cara tergampang mengurangi kriminalitas adalah membunuh para kriminalnya.

Dan itu memang dia lakukan. Selama 1988-2015, sekitar 1424 nyawa melayang lewat tangan besi Duterte (Al-Jazeera, 2016). Dia cukup mengumumkan di TV siapa saja nama yang diduga sebagai kriminal. Esok harinya, tanpa lewat pengadilan, para pemilik nama sudah tak bernyawa.

“Mereka bilang saya punya pasukan pembunuh (death squad)? Ya, itu betul,” katanya saat diwawancara tahun lalu (Al-Jazeera, 2015). “Awas ya kalian semua. Angka 1000 itu akan jadi 100.000. Akan saya buang mayat kalian ke Teluk Manila, buat semua ikan di sana sampai gemuk.”

Dengan “ketegasan” tanpa basa-basi seperti itulah Duterte melaju ke kepresidenan. Setiap hukum, birokrasi, semua dia terabas. Duterte menganggap segalanya di Filipina sudah terlalu korup, hingga hanya “ketegasan” dan kekerasan yang bisa menyelesaikan semuanya.

Sebagai presiden, dia berjanji akan memberantas korupsi di Filipina. “Kalau saya jadi presiden, kalian semua lebih baik sembunyi. Akan saya bunuh kalian semua,” katanya.

Tapi “ketegasan” Duterte juga bisa diikuti “kesewenangan”.

Memang, selama 10 tahun Duterte menjabat walikota Davao, kriminalitas di kota pusat pembunuhan (murder capital) itu berkurang. Davao menjadi salah satu kota layak huni di Asia. Tapi berkurangnya itu dibayar dengan 1424 nyawa melayang–nyawa yang bukan bagian dari sindikat besar, hanya maling-maling kecil dan anak jalanan. 132 di antaranya anak di bawah umur.

Pembunuhan ini juga melupakan fakta bahwa kriminalitas tidak seujug-ujug muncul: dia adalah hasil ketimpangan sosial-ekonomi, ketidakstabilan politik, dan konflik sektarian. Human Development Index (HDI) Filipina di tahun 2014 masih salah satu yang terburuk: ada di urutan 117 dari 187 negara. Berkurangnya kriminalitas di Davao juga bukan berarti kriminalitas itu hilang–ia cuma berpindah ke kota lain.

“Ketegasan” Duterte juga melepaskannya dari pertanggungjawaban akan perbuatan dan ucapannya. Suatu waktu, ia mengomentari kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang biarawati Australia di Davao tahun 1989. “Saya marah dia diperkosa,” katanya saat itu. “Tapi dia cantik sekali. Harusnya saya yang pertama [memerawani dia]. Sayang sekali.” (CNN, 2016).

Banyak warga Filipina marah besar mendengar ucapan itu. Duta besar Amerika Serikat dan Australia mengecamnya. Tanggapan Duterte? “Lebih baik mereka jangan banyak ngomong.” Menurut Duterte, ucapannya cuma bercanda (CNN Philippines, 2016).

Duterte juga dituduh melakukan pelecehan seksual, ketika ia mencium perempuan yang duduk di pangkuannya saat berkampanye. Waktu diprotes kelompok perempuan karena melanggar Philippine Republic Act 9710 yang mengatur perlindungan terhadap perempuan, lagi-lagi Duterte menjawab serampangan, “go to hell!

Meski begitu rakyat Filipina sepertinya tak terlalu ambil pusing.

Survei Universitas Ateneo de Davao (2015) menunjukkan lebih dari 50% warga Davao “oke” dengan keberadaan kelompok pembunuh Davao. 98% bahkan merasa puas dengan kinerja si walikota. Polling nasional Filipina (Al-Jazeera, 2016) menunjukkan, masyarakat percaya hanya Duterte kandidat presiden yang bisa mengatasi kriminalitas, korupsi, dan narkoba.

Dukungan kuat ini mengabaikan fakta bahwa Ferdinand “Bongbong” Marcos, anak diktator Filipina Ferdinand Marcos yang terkenal korup, merupakan salah satu calon unggul wakil presiden Filipina.

Dukungan ini juga mengabaikan bahwa dalam melawan sistem hukum korup yang dianggap Duterte tak tersentuh dan harus diobrak-abrik, sebetulnya Duterte juga sedang menjadikan dirinya menyerupai sistem yang dia lawan: tak tersentuh, tak bertanggung jawab.

“Masyarakat mau pemimpin yang tegas. Tapi masyarakat tidak mengerti kalau pemimpin tegas memusatkan kekuatannya cuma pada dirinya,” kata Chito Gascon dari komisi hak asasi Filipina pada Al-Jazeera (2016).

“Kami pernah punya pemimpin tegas, [Ferdinand] Marcos. Dia pernah berjanji menjadikan Filipina jaya, bebas dari korupsi dan kekerasan. Hal itu tak pernah terjadi.”

Masyarakat Filipina seharusnya tahu: mendukung pemimpin “tegas” yang berpotensi otoriter tidak sama dengan menolak sistem yang korup. Pemimpin yang “tegas” (baca: melakukan kekerasan) pada segelintir kalangan, bisa saja melakukannya pada kalangan lain di suatu waktu nanti.

Di awal abad ke-20, impian akan kehadiran pemimpin “tegas” inilah yang melahirkan Adolf Hitler, Joseph Stalin, Augusto Pinochet, dan banyak lainnya.

Satu abad berlalu, dan masyarakat masih memimpikan pemimpin “tegas”.

Yang mengkhawatirkan: ini bukan cuma terjadi di Filipina.

***

Tulisan ini dimuat ulang dari laman Facebook Youth Proactive.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *