Delegasi Indonesia di Kamboja 2015

Pemuda dan Aktivitas Anti-Korupsi

Beberapa waktu yang lalu, saya -mahasiswa UNTAN- dan 4 teman Indonesia lainnya yang berasal dari beberapa Universitas unggulan Indonesia seperti UI, UNAIR, UNRI, dan UNHAS mengikuti kegiatan International Youth Camp di Siem Riep, Kamboja selama sepekan. Pada dasarnya, tema yang diusung berkisar pada integritas dan peran pemuda Asia-Pasifik dalam penanganan korupsi.

Di sana kami bergabung dengan teman-teman dari Kamboja, Philipina, Malaysia, Pakistan, Polandia, Bangladesh, dan Vietnam. Nilai dasar anti korupsi dari UN Convention against Corruption (UNCAC) kami jadikan sebagai acuan berfikir dan bergerak. Yang unik adalah mengapa harus melibatkan pemuda dalam upaya melawan korupsi?

Ternyata, pemuda (umur 10-24 tahun) berjumlah 25 % dari seluruh umat manusia di muka bumi ini pada tahun 2013. 32% pemuda dari nilai tersebut berasal dari negara-negara yang berkembang, termasuklah Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2015, 87% populasi di negara yang berkembang adalah pemuda dibawah umur 25 tahun. Kalau memperhatikan hal ini, nampaknya dapat dipahami kenapa peran pemuda sangat sentral dalam bergerak bersama-sama pemerintah dalam upaya penanggulangan korupsi. Ups, ditambah lagi 27% masyarakat dibawah umur 30 tahun melakukan upaya sogok menyogok dalam kurun 12 bulan terakhir diseluruh dunia (Global Corruption Barometer 2013).

Nah, yang jadi pertanyaan besar, apakah pemuda mampu melawan korupsi? Kalaupun mampu, pendekatannya gimana? Wijayanto (2010) mengidentifikasi pendekatan yang paling banyak diadopsi negara terkait dengan ini:

  1. Pendekatan Hukum
  2. Pendekatan Bisnis
  3. Pendekatan Ekonomi
  4. Pendekatan budaya/pendidikan

Dari 4 pendekatan di atas, mana yang kawan-kawan mampu untuk berbuat? Menurut saya pribadi, pendekatan yang paling memungkinkan bagi pemuda adalah nomor 4, yup! Pendekatan melalui budaya/pendidikan. Kalian dapat melakukan banyak hal terkait dengan ini. Di dalam bukunya, Anti-Corruption Kit, Transparency International memberikan beberapa contoh aktivitas kampanye anti korupsi yang bisa kawan-kawan kerjakan, seperti melalui media sosial, pembuatan komik, pertunjukkan drama, pembuatan games-games yang menarik, olahraga, musik dan lain lain. Hal ini tentunya lebih efektif kalau dilakukan oleh teman-teman calon guru kepada siswa-siswinya kelak. Tentunya dengan SDM pemuda yang aktif, hal ini dapat menjadi lebih menarik dan tidak membosankan, bukan?

Pendekatan budaya/pendidikan memang cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk melihat keberhasilannya, namun dengan biaya yang tidak besar (low costly), dan hasilnya akan berdampak jangka panjang (long lasting).

Yuk kawan-kawan, Dari pada sibuk mengutuk sana-sini, lebih baik mengutak-atik ini itu.

.

Gambar: Delegasi Indonesia di International Youth Camp 2015, Kamboja.