ACFFest

ACFFest 2015: Melawan Korupsi Lewat Film

Penting untuk mengangkat kesadaran anak muda dalam pemberantasan korupsi. Salah satu metode yang efektif, bisa melalui film dan budaya populer. “Riset Nielsen menunjukkan, rata-rata abege menonton TV 4 jam per hari,” papar Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK.

Bambang melanjutkan, saat ini budaya populer sangat berpengaruh bagi pembentukan nilai anak muda. “Rujukan nilai bukan lagi dari orang tua, tapi internet dan peer group,” jelasnya. Sebab itu, aktivits anti-korupsi mesti mulai memanfaatkan medium populer untuk menjangkau anak muda.

Bersama dua pembicara lain, Tony Kwok (Mantan Komisioner Independent Commission Against Corruption Hong Kong) dan Angga Dwimas Sasongko (Sutradara Film Filosofi Kopi), dalam sesi ngobrol Launching Anti-Corruption Film Festival (ACFFEst) 2015, Usmar Ismail Hall, Jakarta (11/02/2015), Bambang mengulas peran film dan anak muda dalam aktivitas anti-korupsi.

Independent Commission Against Corruption (ICAC) Hong Kong sudah lebih dulu memulai dengan memanfaatkan TV sebagai medium populer. “ICAC punya tim film maker yang kerja sama dengan salah satu stasiun TV,” jelas Tony. Setiap dua tahun sekali, ICAC menggarap serial drama 10 episode tentang pemberantasan korupsi. Serial tersebut ditayangkan tiap prime time dengan durasi sejam.

Selain serial drama, ICAC juga menggarap film layar lebar. Agar tidak dituduh mendiskreditkan institusi tertentu, film-film ICAC selalu menampilkan karakter baik dan buruk dari institusi yang sama. “Bila ada bad police, pasti ada good police buat menyeimbangi,” Tony memaparkan. “Kita juga menyasar bukan cuma polisi, tapi juga bea-cukai, imigrasi, dan lain-lain.”

Sosialisasi melalui film ini juga didukung oleh kerja ICAC yang efektif sebagai komisi antikorupsi. Menurut Tony, efektivitas ICAC dihasilkan dari lembaganya yang independen, transparan, dan menyediakan komite keluhan.

“Seberapa pun korupnya negara Anda, pasti bisa dibersihkan,” ujar Tony. “Tiga cara: buat agar tidak mau korupsi lewat pembelajaran dan sosialisasi, buat agar sulit untuk korupsi dengan perbaiki sistem, buat agar tidak berani korupsi dengan menindak keras dan permalukan pelaku.”

Memang, dalam Corruption Perceptions Index 2014, Hong Kong termasuk 20 besar negara paling bersih korupsi. Padahal, empat dekade sebelumnya, Hong Kong sangatlah korup. Bahkan sempat terjadi upaya pembakaran kantor ICAC oleh polisi Hong Kong.

KPK sementara itu punya cara sendiri sosialisasi dengan cara-cara kreatif. “Lewat program Ide Beraksi, KPK mengajarkan guru untuk tidak korupsi,” Bambang menjelaskan. “Karena guru lah yang selalu bersama anak-anak muda.” Selain guru, program serupa juga tersedia untuk dosen.

Di medium populer, KPK baru memulai dengan mobile game mengenai gratifikasi, GRATiS. Lewat mobile game ini, pemain diajarkan mengenal gratifikasi dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Medium film sendiri digaet KPK dengan mengadakan ACFFest tiap tahunnya. ACFFest, yang diadakan pertama kali tahun 2013, sudah menghasilkan beberapa judul seperti “Jadi Jagoan Ala Ahok”, “Jumrah!” dan “Sekolah Kami, Hidup Kami.”

Sebagai sutradara, Angga menilai bahwa film yang bagus bukan cuma sekadar jadi tontonan, tapi juga bisa menginspirasi penontonnya. Dan membuat film seperti itu tidak sulit. “If it can inspire you, it can inspire other people,” pungkasnya.

acffest-poster

Tahun ini pun ACFFest membuka peluang bagi para sineas muda untuk berpartisipasi dalam melawan korupsi. Ready to make your mov!e, Youth?

.

Website ACFFest: http://www.acffest.org/

Nonton online film Jadi Jagoan Ala Ahok: https://www.youtube.com/watch?v=wKgauOwo4mc

Nonton online film Sekolah Kami, Hidup Kami: https://www.viddsee.com/video/our-school-our-lives/j6f77