teknologi-transparansi

Teknologi dan Transparansi: Inisiatif Publik untuk Bangsa

Rabu (29/10/2014), Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) UI menggelar seminar di Auditorium Juwono Sudarsono (AJS) FISIP UI, bertajuk “Teknologi dan Transparansi: Partisipasi Orang Muda dalam Memonitor Kinerja Pemerintah”. Seminar ini menghadirkan pembicara Pangeran Siahaan (AyoVote, ProvocativeProactive), Agus Rachmanto (UKP4, OpenGovIndo), dan Levriana Yustriani (Puskakom UI).

Seminar dibuka dengan Pangeran Siahaan menanggapi hiruk-pikuk yang beredar di media sosial selama persiapan menuju Pilpres 2014. Orang muda yang identik dengan cuek politik mendadak turut berkomentar dalam tiap kesempatan mengomentari kedua kandidat. Bahkan, meminjam istilah Pangeran, banyak yang jadi sotoy politik. Tapi menurut Pangeran, “Sotoy politik itu tidak jelek kok. Buat gue malah lebih mending sotoy daripada enggak peduli sama sekali.”

Menurut Pangeran, hingar-bingar pada pilpres kemarin lantaran pemilih muda tidak dibiasakan untuk melek politik sejak dini. Pendidikan politik hampir tidak ada—bagi kalangan muda, politik selalu nampak sebagai topik yang “jauh” dan “berat”. Padahal begitu masuk usia memilih, anak muda sudah diharapkan untuk tahu dan berpartisipasi dalam politik. Cara paling konkret adalah dengan memilih di pemilu.

Melalui AyoVote dan ProvocativeProactive, Pangeran berusaha membangkitkan gairah itu di anak muda. Menurutnya, politik harus “dibuat nge-pop”. Penyampaiannya harus disampaikan lewat medium populer seperti televisi, ngobrol bareng di mall, dan bahkan tanya-jawab di situs media sosial seperti ask.fm.

Mengecilkan Jarak

Selanjutnya, Agus Rachmanto mengenalkan OpenGovIndonesia.org (OGI) kepada hadirin. OGI merupakan inisiatif yang melibatkan lembaga pemerintah (seperti Bappenas, Kemkominfo, Kemendagri, dsb) dan organisasi masyarakat sipil (seperti Transparency International Indonesia, Fitra, dsb) untuk mendukung transparansi pemerintah. Tujuannya, mendekatkan jarak antara masyarakat dengan pemerintah.

Untuk mencapai ini, OGI memiliki lima layanan unggulan: SatuLayanan.net, bermanfaat sebagai sumber informasi layanan publik terpadu; SatuPemerintah.net, menampilkan kebijakan dan profil pemerintah; LAPOR.ukp.go.id, sarana pengaduan pada pemerintah bila terjadi ketidakpuasan pada layanan publik (misalnya kerusakan jalan); Data.id, menampung seluruh data dari seluruh instansi pemerintahan; dan modelogp.org sebagai sarana kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat.

Agus mengambil contoh LAPOR sebagai salah satu layanan yang berhasil; sebelumnya untuk melaporkan sesuatu, semisal jalanan yang berlubang, masyarakat harus datang ke kelurahan, membuat dokumen, dan pasrah pada nasib menunggu laporan ditindak lanjuti. Melalui LAPOR, kini masyarakat bisa menggunakan website maupun aplikasi mobile-nya, dan langsung melaporkan keluhan mereka ke pemda yang bersangkutan.

mata-massa
Sebagian porsi infografis dari riset MataMassa

Terkait dengan ini, di sesi akhir Levriana Yustriani mengulas hasil riset MataMassa, aplikasi pemantauan pemilu yang mendata proses pemantauan Pemilu 2014. Secara mengejutkan, mayoritas relawan yang terlibat adalah anak muda. Mayoritas pun cukup fasih dengan teknologi mobile; dari seluruh relawan, 63% di antaranya memantau dengan menggunakan smartphone dan laptop. Riset yang diungkapkan Levriana menunjukkan bahwa ada keterlibatan anak muda yang cukup signifikan dalam pemilu tempo hari.

Meski dengan animo sedemikian, Levriana menambahkan masih banyak kendala bagi anak muda dalam pengawasan pemilu. Masih banyak yang belum mengenali seperti apa bentuk-bentuk pelanggaran pemilu, pun ada yang bisa mengidentifikasi, terkendala dalam proses pemantauan (sulit dipantau) dan pelaporannya. Menurut Levriana, “anak muda sudah dibekali dengan infrastruktur gadget yang memadai, tapi belum ada infrastruktur pelaporan yang sederhana.”

.

Sumber foto: Berita Satu.