acf

Pencegahan Korupsi Melalui Dunia Perfilman

Upaya pencegahan korupsi dapat dilakukan melalui pembelajaran nilai integritas dan kejujuran pada generasi muda. Pembelajaran pun dapat dilakukan melalui berbagai macam hal dan salah satunya adalah melalui film. Dampak pengaruh film kepada pola pikir penontonnya sangat besar, ketika kejadian atau scene dalam film dijadikan tolak ukur dalam berperilaku sosial.

Melalui film, pesan moral dapat disampaikan secara efektif kepada anak muda karena besarnya proporsi waktu yang dihabiskan oleh anak muda untuk menonton film dan juga pendekatan yang ringan dalam bentuk alur cerita. Selain itu film juga dinilai memiliki resonansi yang sangat besar atau efektif dari segi distribusinya, karena mudah untuk disebarluaskan melaui televisi, media sosial, dan DVD. Jika dibandingkan dengan seminar atau workshop yang
terikat dengan lokasi dan ketersediaan narasumber, film dapat diputar secara berulang-ulang. Kekurangannya jika dibandingkan dengan workshop adalah tidak mungkinnya interaksi langsung dengan narasumber atau pemain film.

Abraham Samad pada acara ACFFest Movie Day menyampaikan pentingnya penanaman nilai budi luhur di generasi muda. Tidak jarang pelaku korupsi seperti Angelina Sondakh dan Nazarrudin yang tergolong muda, menunjukkan masih kurangnya nilai kejujuran dan integritas dalam generasi setelah rezim Suharto. Abraham juga menekankan bahayanya pengaruh era globalisasi yang tidak terfilter yang dapat membuat generasi muda menjadi hedon, pragmatis dan konsumtif, jika kita tidak menanamkan nilai budaya bangsa kita.

Ditanya oleh seorang siswa SMA mengenai pemberian remisi kepada para pelaku tindak pidana korupsi, Abraham mengaku pemberi kebijakan tersebut bukan keputusan KPK. Pemberantasan korupsi membutuhkan kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi lainnya. Dalam hal ini Kementrian Hukum dan HAM adalah yang berkebijakan memberikan remisi pada koruptor, walaupun Abraham secara personal berpendapat bahwa koruptor pantas dijatuhi hukuman mati.

ACFFest adalah upaya pencegahan korupsi melalui film yang melibatkan anak muda dalam perlombaan film pendek, animasi dan citizen journalism. Disini film bukan dilihat sebagai produk melainkan sebagai mobilisasi pencegahan korupsi. Pada kompetisi ini dewan juri bukan hanya para sineas, tetapi juga sosiolog sehingga dapat menilai pentingnya suatu pesan moral di dalam sebuah film, dikutip dari Ari Nugroho (Management Systems International) selaku penggagas acara ini.

Selain itu ACFFest juga memberi workshop mengenai Citizen Journalism. Ade Armando narasumber workshop selaku praktisi dan dosen komunikasi, menjelaskan pentingnya peran media dalam pembentukan pola pikir. Komersialisasi media massa di Indonesia, dimana media swasta dikendalikan pemodal dan profit oriented, dinilai membutuhkan penyeimbang yaitu citizen journalism yang lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat sipil. Citizen journalism dapat menjadi fourth estate disamping eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang dapat menjadi kontrol langsung dari masyarakat dalam pemberantasan korupsi.