Bs5GhbJCIAAz_O2

Di Balik Euforia Pelaksanaan Piala Dunia 2014

Gelaran Piala Dunia 2014 di Brazil memang memiliki cerita tersendiri. Banyaknya jumlah gol yang tercipta di lapangan, beberapa hasil pertandingan yang mengejutkan, selebrasi gol yang unik, air mata dari para pemain  dan juga para penonton, emosi yang meluap, terciptanya rekor-rekor baru, sorak sorai kemenangan dan peristiwa-peristiwa unik lainnya turut mewarnai gelaran piala dunia kemarin. Jutaan bahkan miliaran pasang mata penduduk dunia tertuju pada pelaksanaan pesta sepak bola empat tahunan ini. Euforia yang tercipta pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis yang datang ke Brazil, terutama bagi mereka yang datang untuk mendukung tim nasional dari negaranya masing-masing. Dan pada puncaknya, ‘tim Panser’ Jerman lah yang berhasil mengangkat tropi Piala Dunia 2014 setelah mengalahkan ‘tim Tango’ Argentina dengan skor 1-0. Ini merupakan kemenangan yang keempat kalinya bagi Jerman dalam gelaran Piala Dunia.

Namun di balik euforia pelaksanaan Piala Dunia 2014 di Brazil, ternyata terdapat beberapa hal yang menjadi sorotan dan perlu untuk dipertanyakan. Terdapat serangkaian ‘goals’ (tujuan—red) lainnya yang terjadi di luar lapangan dari mereka yang menjadi ‘pelaksana’ gelaran Piala Dunia kali ini. Beberapa hal yang kemudian dipertanyakan antara lain adalah alasan FIFA memilih Brazil sebagai tuan rumah pelaksanaan Piala Dunia kali ini, mekanisme penentuan jumlah anggaran pembiayaan untuk pembangunan/perbaikan stadion dan pengadaan fasilitas lainnya oleh FIFA kepada Brazil serta mekanisme pembagian keuntungan antara FIFA dengan Brazil, dan bagaimana sistem kerja di dalam tubuh FIFA dalam pelaksanaan Piala Dunia. Akibat munculnya sorotan-sorotan tersebut, Joseph Blatter yang merupakan Presiden ‘seumur hidup’ FIFA serta Presiden Brazil, Dilma Rouseff mendapatkan cemoohan tanpa henti di akhir pertandingan final Piala Dunia 2014 sesaat sebelum Jerman mengangkat tropi Piala Dunia sebagai tanda kemenangan bagi timnya.

Dugaan penggelembungan anggaran dan penyelewengan dana dalam pelaksanaan Piala Dunia ─mulai dari perencanaan pembangunan/perbaikan fasilitas yang dibutuhkan sampai dengan tahap penyelesaian─ yang mencuat ke publik memang perlu untuk diselidiki. Pemerintah Brazil juga dianggap bertanggungjawab atas dugaan korupsi tersebut. Komite Etik FIFA harus segera melakukan investigasi atas dugaan korupsi yang terjadi dalam proses pembangunan/perbaikan fasilitas yang ditaksir memakan anggaran paling besar karena permasalahan pengadaan bahan serta pemberian kontrak yang dilakukan oleh pihak perusahaan konstruksi yang ternyata didonasikan untuk kegiatan kampanye politik. Mengingat banyaknya kerusuhan yang terjadi di Brazil akibat biaya miliaran dolar yang dikeluarkan oleh pemerintah Brazil untuk menggelar perhelatan akbar sepak bola tersebut, maka penyelidikan yang akan dilakukan haruslah bersifat transparan dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Grafiti yang menggambarkan protes Anti-FIFA
Grafiti yang menggambarkan protes Anti-FIFA

Sebelum kick off pertandingan pertama Piala Dunia 2014 pada bulan Juni lalu, masyarakat Brazil berkali-kali turun ke jalan dan mengajukan protes kepada pemerintah Brazil. Mereka meminta kenaikan anggaran kesehatan dan pendidikan serta perbaikan fasilitas di kedua sektor tersebut. Mereka menyayangkan pemerintah Brazil lebih memilih untuk menghabiskan anggaran yang sangat besar untuk melaksanakan pesta sepakola terbesar di dunia tersebut, terutama untuk pembangunan stadion baru.

Brazil akan mengadakan pemilihan umum di bulan Oktober nanti. Para politisi Brazil dituntut untuk memperjelas pengeluaran dana dalam pelaksanaan Piala Dunia 2014, sehingga pengusutan kasus dugaan korupsi dalam pelaksanaan Piala Dunia 2014 ini dapat menemukan titik terang. Dengan sudah tidak adanya harapan bagi tim nasional Brazil untuk memenangkan Piala Dunia tahun ini ─setelah kekalahan yang amat memalukan dari tim nasional Jerman di pertandingan semi final dengan skor 7-1─ akan menjadi sangat sulit bagi pemerintah Brazil untuk meredam isu dugaan korupsi ini. Dugaan korupsi tersebut ternyata semakin kuat ketika ditemukan bukti bahwa pembangunan stadion yang diperuntukkan bagi gelaran Olimpiade Musim Panas 2016 di kota Rio de Janeiro ternyata molor dari jadwal yang telah ditentukan. Hal ini tentu menjadi perhatian serius di kalangan organisasi pegiat hak asasi manusia dan organisasi pegiat anti korupsi.

FIFA masih menghadapi keadaan di mana organisasi tersebut diduga terlibat dalam kasus korupsi dan kasus suap dalam kaitannya dengan penetapan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Proses investigasi atas kasus-kasus ini ditargetkan akan selesai pada bulan September ini. Dugaan-dugaan tersebut telah mendorong lima dari enam perusahaan sponsor utama untuk mengeluarkan pernyataan melalui sebuah konferensi pers. Mereka menegaskan bahwa masalah-masalah ini harus segera diselesaikan agar tidak menjadi berlarut-larut.

Selain lima dari enam perusahaan sponsor utama Piala Dunia, beberapa pengusaha internasional ternama pun menyatakan sikap mereka atas dugaan kasus korupsi yang menimpa FIFA tersebut. Mereka menyarankan adanya reformasi di tubuh FIFA tepat setelah gelaran Piala Dunia 2014 di Brazil berakhir. Namun ternyata, keadaannya tidak sesederhana itu bagi FIFA. Jika seandainya terbukti bahwa penetapan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 ternyata merupakan sebuah usaha dari FIFA untuk menutupi fakta-fakta yang ada, maka harus ada ‘tekanan’ yang lebih besar dari luar kepada FIFA. Sebab jika tidak, maka akan sangat sedikit permasalahan yang bias diselesaikan dalam tataran internal oleh FIFA itu sendiri.

Berbagai lembaga anti korupsi, termasuk Transparency International, berharap para sponsor dalam Piala Dunia tetap memberikan tekanan kepada FIFA untuk menyelesaikan permasalahan ini. Selain itu, diharapkan juga kepada para pemegang hak siar ─yang dalam setiap pelaksanaan Piala Dunia ikut memberikan kontribusi dana miliaran dolar bagi pendapatan FIFA─ untuk ikut mendorong adanya perubahan berarti dalam regulasi FIFA dan juga mendorong FIFA untuk mengklarifikasi dan membuktikan bahwa semua tuduhan tersebut tidaklah benar.

Hanya berselang beberapa hari sebelum Piala Dunia 2014 dimulai, FIFA mengumumkan bahwa mereka telah sukses melakukan proses reformasi tata kelola pemerintahan dalam internal organisasinya. Namun, Komite Etik FIFA dan Transparency International menyatakan bahwa bukan hal tersebut yang dibutuhkan oleh FIFA. Mereka menyayangkan kurangnya pengawasan independen terhadap FIFA, selain itu fakta bahwa petinggi-petinggi FIFA bisa menduduki jabatan terlalu lama juga patut menjadi perhatian.

‘Presiden seumur hidup’ FIFA (yang saat ini sudah berusia 78 tahun), Joseph Blatter, pada tahun 2015 berencana untuk mencalonkan diri kembali sebagai Presiden FIFA. Di mana apabila hal tersebut benar terjadi, maka ini akan menjadi periode kepemimpinannya yang kelima. Hal ini berarti, ia akan menjadi Presiden FIFA selama kurang lebih 20 tahun (karena periode kepemimpinan FIFA berganti setiap empat tahun sekali—red). Hal ini tentu membuat banyak orang beranggapan bahwa FIFA terlihat seperti ‘imperium’ yang dipimpin oleh seseorang yang hendak menyebarkan pengaruhnya dan meluaskan kekuasaannya kepada sekitar 209 unit asosiasi sepak bola di seluruh dunia dan juga kepada seluruh pengurus FIFA (terutama anggota Komite Eksekutif FIFA). Sebenarnya, mereka semua itu memiliki kuasa untuk melakukan perubahan di tubuh FIFA. Namun Blatter terlihat mampu melanggengkan kekuasaannya dengan tetap berusaha menjaga kepercayaan orang-orang tersebut, sehingga mereka itu tetap akan berada di pihaknya meskipun banyak tekanan dari luar FIFA yang menginginkan Blatter untuk lengser dari tahtanya sebagai Presiden FIFA.

Dari sisi lain, Piala Dunia akan terus ada untuk menjadi momen yang membahagiakan bagi miliaran rakyat dunia sampai entah kapan. Namun, agaknya FIFA masih enggan untuk melakukan perubahan dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi di internal organisasinya. Sementara itu, di saat Blatter yang mungkin merasa sudah sangat nyaman menduduki tahtanya dengan 209 asosiasi sepak bola di seluruh dunia berada di bawah kekuasaannya sedang menikmati keuntungan yang FIFA dapatkan dari hasil siaran Piala Dunia, organisasi FIFA akan tetap menjadi sasaran tembak dari berbagai kalangan di seluruh dunia selama tuntutan pembuktian dugaan korupsi di tubuh FIFA yang selama ini dilayangkan belum bisa diusut tuntas.

 

Dari berbagai sumber

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Fidia Larakinanti

Fidia Larakinanti (Paramadina-Principia Management Group Fellows) adalah seorang mahasiswi program studi Hubungan Internasional, Universitas Paramadina. Aktif di beberapa organisasi kepemudaan, seperti YEP! Youth EmPowering! dan Komunitas Anti korupsi (KOMPAK) Paramadina. Hobi menyanyi dan menulis. Saat ini sedang bekerja menjadi volunteer di Youth Department Transparency International Indonesia Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *