IMG-20140321-WA0002

Diskusi di Kampus IKJ “Mencari Pemimpin Anti Korupsi”

Youth Depertement Trancparency International mengadakan  diskusi kampus di aula IKJ pada hari Selasa, 18 Maret 2014. Diskusi ini bertemakan Mencari Pemimpin Anti Korupsi dengan pembicara salah satu caleg dari Partai Persatuan Pembangunan Ridha Fiyana, adapula Pak Usep dari  Rumahpemilu.org sebagai narasumber, serta moderator seorang dosen muda dari IKJ.

Dalam diskusi ini Ridha Fiyana dari Dapil 2 Jakarta, menceritakan bagaimana beliau bisa terjun ke dunia politik menjadi calon legislatif dari partai PPP. Beliau awalnya tergerak mendaftarkan diri karena melihat keadaan Indonesia yang carut marut dan melihat anggota DPR sekarang ini yang dinilai tidak bekerja secara maksimal.  Setelah mengetahui PPP melakukan open recruitment Ridha Fiyana langsung mendaftarkan diri sebagai caleg di partai tersebut.

Ridha Fiyana memilih PPP karena menganggap partai tersebut cukup bersih dibandingkan dengan partai lainnya yang ada. Beliau menyatakan PPP selama ini dikenal masyarakat sebagai partai yang berbasis islam dan diisi oleh orang-orang yang sudah tua. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan Ridha Fiyana mencalonkan diri untuk mengubah citra partai ini ke arah yang lebih modern. Dalam mensukseskan pemilu ini, Ridha Fiyana hanya merekrut beberapa relawan yang mau membantu beliau dalam pemilu kali ini.

Selain Ridha Fiyana yang menjadi narasumber dalam diskusi ini, ada juga Pak Usep dari RumahPemilu.org yang memberikan penjelasan mengenai pemilu. Pak Usep menjelaskan kenapa harus memilih caleg muda. Persentase Anggota DPR yang masih berusia muda sekarang ini dinilai masih sangat minim. Menurut beliau, pentingnya memilih caleg muda adalah agar aspirasi masyarakat muda dapat terperolehkan.

Pak Usep juga melihatkan partai terkorup sesuai data dari ICW.  Dalam menjelaskan mengapa korupsi, menurut Pak Usep selama ini calon legislatif untuk mendukung kesuksesan dalam proses menuju anggota legislatif meminjam modal besar dari pengusaha atau pemodal, setelah mereka naik menjadi anggota legislatif, mereka melakukan korupsi untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Sementara para caleg muda diperkirakan lebih fokus turun ke lapangan memberikan daya tawar kepada masyarakat untuk dapat menarik perhatian dalam pemilihan.

Berbicara pemilu, pak Usep juga menjelaskan bagaimana memilih yang benar antara memilih orang atau memilih partai. Pak Usep menerangkan bagaimana jika dalam pemilu ini rangking partai menjadi fokus dalam pemilihan. Oleh karena itu diperlukan mengetahui calon legislatif sebelum memilih dengan memperhatikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan.

Diskusi kali ini juga dibuka sesi tanya jawab dengan mahasiswa IKJ. Beberapa mahasiswa bertanya diantaranya: Mengapa harus masuk partai, kenapa tidak tidak boleh independent? Jawaban dari pembicara ialah bahwa masuk partai sesungguhnya dapat sekalian membenahi dan memberikan fungsi partai sesuai pada awalnya.

Kemudian ada pula yang menanyakan apakah hanya pemilu tempat yang tepat dalam memilih pemimpin?”. Kemudian di jawab oleh para narasumber bahwa dahulu sebelum adanya pemilu, para pemimipin tersebut dipilih oleh para ahli politik yang dinilai layak untuk maju. Namun, keadaan tersebut dinilai menimbulkan kekuasaan yang terpusat oleh pemilik kepentingan tertentu dan cenderung korupsi karena hanya orang-orang tertentu yang dapat berkuasa tanpa ada kontrol. Selain itu sesungguhnya demokrasi dapat berbicara dalam pemilu tersebut untuk mencegah orang yang tidak layak untuk terpilih, ketertarikan atas visi dan misi yang sama dengan rakyat. Menurut pak Usep, pemilu dan demokrasi bagai dua sisi mata uang logam, tidak bisa dipisahkan. Pemilu dinilai adalah tempat terbaik dari sistem yang telah ada, namun tetap perlu adanya tanggung jawab. Serta untuk menguji suatu negara apakah cukup demokratis atau tidak bisa dinilai dari pemilunya, hal tersebut karena untuk menentukan apakah suatu negara sudah berdemokrasi dengan baik.

Pertanyaan terakhir yang dilontarkan peserta mengenai kampanye yang hanya nampak seperti jualan politik namun tidak memberi pendidikan kepada masyarakat. Narasumber menjawab dengan lugas bahwa beberapa partai memang tidak memperhatikan memberikan pendidikan dalam bekampanye, hanya fokus berjualan, hal yang dinilai sangat memprihatinkan karena masyarakat juga perlu tahu mengenai politik dan alasan kenapa harus memilih dengan melihat program kerjanya.  Dan hal ini hanya bisa dilakukan jika masyarakat mendapatkan pendidikan poltik.

Kesimpulan dalam  diskusi kali ini adalah bagaimana pemilih muda perlu mengetahui lebih banyak tentang calon legislatif yang akan di pilihnya dengan melihat latar belakangnya, visi dan misi dari calon legislatif tersebut. Dengan memilih dalam pemilu kita sebagai rakyat perlu gunakan suaranya dengan baik dan sesuai dengan pengetahuan. Hal tersebut guna dapat menentukan calon pemimpin yang berwibawa.