2014-03-05 10.51.53

Capacity Building Pemilu 2014

Transparency International Indonesia (TII) pada hari Rabu, 5 Maret 2014,  mengadakan diskusi kecil di ruang rapat kantor Trancparency International Indonesia. Diskusi tersebut dipimpin langsung oleh Pak Luky Dani sebagai pembicara yang membahas mengenai pemilu.

Pak Luky Dani membuka diskusi ini dengan melempar topik tentang pandangan para peserta diskusi mengenai demokrasi di Indonesia. Para peserta memberi pandangannya, mulai dari demokrasi masih terkait masalah kebutuhan masyarakat yang belum diperhatikan, sampai menyatakan adanya pengaruh orde baru yang membuat demokrasi sulit untuk dijalankan.  Menurut Pak Luky Dani, demokrasi di Indonesia masih terganjal masalah aspirasi rakyat Indonesia yang masih belum dijalankan oleh para pemimpin. Para pemimpin masih mementingkan kepentingan pribadinya dalam mengatur negara. Keadaan tersebut yang membuat bagaimana kepentingan rakyat Indonesia belum semuanya tersampaikan dan dijalankan dengan baik. Dengan keadaan tersebut sesungguhnya perlu ditanyakan kembali apakah Indonesia sudah menganut asas demokrasi atau belum.

Selain membicarakan masalah demokrasi, Pak Luky Dani juga berbicara mengenai irregular voters di Indonesia. Irregular voters merupakan rakyat yang memberi suara pada pemilu sesuai keinginannya saja, atau mereka yang hanya mempunyai calon pilihan pada satu pemilu tidak memiliki calon pilihan pada pemilu lainnya. Contohnya, rakyat yang memberi suara pada pemilu legislatif dan presiden tahun 2004, tapi tidak memberi suara pada pemilu legislatif dan presiden tahun 2009, atau pemilukada dengan alasan-alasan tertentu. Di Indonesia sendiri irregular voters ini jumlahnya tidak statis dalam arti terus mengalami penaikan dan penurunan. Contohnya, pada pemilu tahun 2009 dibandingkan dengan pemilu tahun 2004 jumlah irregular voters memiliki peningkatan, semakin banyak rakyat yang tidak memilih dibandingkan pemilihan legislatif dan presiden sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan menurut aspirasi dari beberapa orang rakyat, pemilu tahun 2009 calon anggota legislatif atau presiden yang maju tidak menarik perhatian.

Pak Luky Dani juga menyatakan politik merupakan masalah transaksi antara para calon legislatif dengan rakyat yang menjadi calon pemilihnya. Calon legislatif berjanji untuk merenovasi jalan-jalan di kampung jika ia terpilih, hal ini dapat diindikasikan sebagai transaksi yang sedang berjalan antara Caleg dan rakyat karena adanya jual beli kepentingan antara calon legislatif dengan pemilih. Banyaknya para calon legislatif yang memberikan sumbangan dana untuk kepentingan rakyatnya sebelum mereka menjadi anggota legislatif, mulai dari memberikan sembako, perbaikan fasilitas daerah, sampai memberikan uang ke beberapa rakyat yang dianggap membutuhkannya. Beliau menyatakan hal tersebut dianggap sebagai uang muka untuk membeli suara rakyat dan akan dilunasi ketika para calon legislatif tersebut telah menjadi anggota legislatif secara sah.

Yang menjadi incaran beberapa calon legislatif mengenai “transaksi” tersebut merupakan rakyat kelas bawah. Rakyat kelas bawah di sini lebih fokus kepada petani dan buruh, karena dinilai sebagai rakyat yang menempati suatu daerah yang tetap dan mempunyai kebutuhan yang sama. Contohnya, petani akan membutuhkan lahan pertanian untuk ia dapat tetap bekerja, serta keperluan pertanian seperti pupuk dan sebagainya. Ketika salah satu calon legislatif telah menang di daerahnya, biasanya telah terjadi transaksi tetap dan menyelesaikan kebutuhan rakyat di daerahnya.

Terakhir, menurut pandangan Luky Dani usia pemilih dalam pemilu perlu dinaikkan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya anak muda yang masih buta politik sehingga dalam pemilu suara mereka akan berjalan tidak tentu dan banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat banyak. Namun demikian pandangan tersebut coba disangkal oleh salah satu peserta diskusi, apabila usia pemilu dinaikkan dengan alasan anak muda buta politik maka akan ada penaikkan usia pada seterusnya dengan alasan yang sama. Lebih baik menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan pendidikan politik dan kesadaran politik sejak dini kepada para pemuda tersebut untuk dapat menggunakan hak suaranya dengan baik.