posting

Diskusi Media: Cek Kandidatmu Pada Pemilu 2014

Pada hari Ahad, 9 Maret 2014 Transparency International Indonesia mengadakan acara Diskusi Media bertemakan “ Cek Kandidatmu pada Pemilu 2014 “. Acara yang bertempat di Bakoel Koffie Cikini ini dimulai pada pukul 13.00 WIB.  Sekitar 30 orang wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik hadir dalam acara diskusi ini memenuhi semua tempat duduk yang disediakan. Diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara, diantaranya ialah Krisbiantoro dari KontraS, Sekar Ratnaningtyas dari TII, dan Khalisah Khalid dari WALHI serta di moderatori oleh Lia Toriana dari TII.

Pembicara pertama adalah Khalisa Khalid dari WALHI, dalam pemaparannya, wanita yang biasa dipanggil Alim ini menuturkan bahwa isu lingkungan hidup belum menjadi skala prioritas untuk segera diselesaikan pada pemilu 2014. Alim juga menyampaikan bahwa WALHI baru-baru ini telah meluncurkan hasil survey mengenai siapa saja calon legislatif DPR-RI yang pro terhadap isu lingkungan hidup. Hasil temuan mereka cukup mencengangkan, karena masih banyaknya caleg yang belum memiliki kompetensi kepemimpinan yang baik dan komitmen yang kuat untuk berintegritas.

“Mengapa WALHI mengambil peran dalam isu pemilu 2014? Karena pemilu merupakan momentum untuk membuat perubahan bagi sebuah negara dan isu lingkungan hidup tercakup didalamnya, dimana kondisi lingkungan hidup semakin mengkhawatirkan,” ujar Alim dengan antusias.

Dari data yang dimiliki oleh WALHI, bencana ekologis meningkat 200% dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini patut dicemaskan, namun sayangnya dari hasil survey yang dilakukan oleh WALHI, ternyata para caleg maupun parpol masih beranggapan bahwa isu lingkungan hidup bukanlah hal yang krusial untuk diselesaikan. Hal ini cukup memprihatinkan. Apalagi banyak caleg yang berkampanye dengan memasang poster di pohon-pohon pinggir jalan yang tentunya merusak lingkungan.

WALHI juga mengadakan penelitian dengan cara mempelajari CV dari setiap caleg yang maju ke pemilu 2014, hal ini cukup mengherankan. Karena banyak caleg yang CV-nya terkesan asal-asalan, bahkan ada yang dengan sengaja tidak mau membuka informasi dirinya kepada publik. Bagaimana mereka bisa mewakili suara rakyat jika jalan untuk berkomunikasi dengan mereka saja ditutup? Di sini akuntabilitas caleg menjadi rendah, komitmen KPU untuk menyaring caleg yang berkualitas dipertanyakan. Untuk ke depannya, WALHI mengharapkan agar isu lingkungan hidup menjadi hal yang utama dalam visi-misi parpol maupun caleg, bukan hanya tempelan semata.

Selanjutnya pembicara kedua yaitu Sekar Ratnaningtyas dari TII yang menyampaikan mengenai inisiasi dari TII untuk membuat sebuah portal yang berfungsi mengenalkan para kandidat calon legislatif kepada para peserta pemilih di pemilu 2014. Portal ini bernama www.checkyourcandidates.org yang menyasar para pemilih pemula dengan kisaran usia 17-30 tahun. Karena para pemilih pemula memiliki prosentase 30% dari keseluruhan jumlah pemilih di Indonesia, dan prosentase ini sangat menentukan untuk membawa perubahan di Indonesia. Oleh karenanya, tantangan selanjutnya adalah mengetahui karakterisik pemilih muda agar bisa menyajikan konten yang sesuai dengan fokus mereka. Diantara tantangan tersebut adalah rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik, para pemilih tidak cukup mengenal kandidat yang akan mereka pilih, akses data mengenai profil caleg yang masih terbatas, juga beragamnya isu yang ingin diangkat oleh para pemuda seperti isu lingkungan, HAM, keadilan gender, dan seterusnya.

Tantangan-tantangan tersebut harus bisa diatasi agar para pemilih pemula mau menggunakan hak pilihnya dan memberikan suaranya kepada caleg yang berintegritas, pro-HAM, pro lingkungan dan sebagainya. Maka dari itu, portal www.checkyourcandidates.org bertujuan mengenalkan para pemilih muda dengan para kandidat melalui tracking yang datanya bersumber dari KPU. Meski website KPU telah menyediakan layanan untuk mengenal para caleg dengan menampilkan CV, namun itu dirasa belum cukup. Sehingga portal www.checkyourcandidates.org melengkapinya dengan data tracking, rekam jejak si caleg dalam hal pendidikan, organisasi, juga perannya dalam melestarikan lingkungan hidup dan integritas yang ia miliki. Data yang ditampilkan di portal ini kebanyakan adalah caleg dengan usia dibawah 40 tahun, karena pemimpin Indonesia di masa depan sudah sepatutnya didominasi oleh anak muda.

Pembicara ketiga yakni Krisbiantoro dari KontraS menuturkan tentang tagline yang diusung oleh KontraS pada pemilu tahun ini, Bersih 2014. Pada pemilu tahun-tahun sebelumnya, KontraS telah melakukan kampanye dengan platform “Jangan Pilih Politisi Busuk” pada pemilu tahun 2004 dengan menyampaikan track record parpol mana saja yang pernah melakukan pelanggaran HAM. Lalu pada pemilu tahun 2009, KontraS merubah tagline kampanyenya dengan “Jangan Pilih Pelanggar HAM”. Di tahun 2014 ini, KontraS ingin mengangkat sisi positif dengan membuat website Bersih 2014. Website ini menyediakan informasi dan gambaran yang jelas mengenai caleg bersih dari seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Alat ukur untuk menilai caleg bersih ini dilihat dari apakah ia pernah melakukan pelanggaran HAM atau tidak, sejauhmana dia pro terhadap isu HAM dan bagaimana partisipasi aktifnya dalam memajukan isu tentang HAM di Indonesia.

Sebelum memasukkan nama-nama caleg yang dianggap bersih ke dalam website Bersih 2014, KontraS terlebih dulu melakukan tracking dari hasil investigasi di media dan juga laporan dari Komnas HAM. Beberapa Parpol yang pemimpinnya diduga kuat terlibat dalam kasus pelanggaran HAM disisihkan dari tracking ini meski di dalam parpol tersebut terdapat caleg yang bersih.

Dari tracking yang telah dilakukan oleh KontraS, sejauh ini sudah terdapat 50-60 caleg yang berhasil dinyatakan sebagai kandidat yang bersih dalam pemilu 2014. Indikator mereka untuk bisa masuk dalam kriteria ini adalah bahwa caleg yang bersangkutan tidak pernah terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan aksi pelanggaran HAM, juga tidak bergabung dengan institusi manapun yang melanggar HAM. Integritas, kapabilitas dan leadership yang ia miliki juga merupakan nilai tambah. Caleg tersebut juga tidak menghalangi jalannya pemenuhan HAM di Indonesia. Tracking ini juga berlaku terhadap para caleg incumbent yang mencalonkan diri kembali di pemilu tahun ini.

Sejauh ini, KontraS telah turun ke beberapa wilayah di Indonesia untuk melakukan diskusi, memberikan materi mengenai caleg bersih, radio streaming, juga mendistribusikan panduan memilih caleg bersih. Profil caleg incumbent yang terlibat pelanggaran HAM pun disertakan sebagai bukti untuk mendukung caleg bersih di pemilu tahun 2014.

Seusai pembicara ketiga mengakhiri pemaparannya, sesi tanya jawab pun dimulai. Para peserta yang merupakan awak media terlihat antusias, ada yang bertanya bagaimana dengan tolak ukur dari setiap lembaga yang berbeda sehingga memungkinkan salah satu kandidat bersih menurut satu lembaga namun tidak bagi lembaga lainnya. Contoh, kandidat yang mendukung isu lingkungan hidup namun dirinya terlibat kasus pelanggaran HAM. Ada pula yang memberi tanggapan bahwa rakyat Indonesia ingin memiliki kandidat yang bersih dari semua masalah, baik itu kasus pelanggaran HAM, kasus korupsi, maupun kasus perusakan lingkungan hidup.

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan lugas oleh para pembicara hingga diskusi berakhir sekitar pukul tiga sore. Setelah diskusi resmi di tutup, beberapa wartawan segera mengerubungi pembicara untuk melakukan wawancara.

Banyaknya portal atau website yang memungkinkan kita bisa mengenali para kandidat yang berlaga di pemilu 2014 semakin menambah alasan bahwa sesungguhnya golput itu tidak perlu, apalagi suara youth memiliki prosentase besar dan mampu mengubah keadaan jika rakyat Indonesia mau mengenal lebih dekat bagaimana politik itu sebenarnya.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *