uin

Diskusi Publik “Youth Power: Your Vote, Your Future” di UIN Syarif Hidayatullah

Youth Departement Transparency International Indonesia (TII) mengadakan serial diskusi publik di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Rabu, 19 Februari 2014. Serial diskusi publik yang bertemakan “Youth Power : Your Vote, Your Future” ini menghadirkan 3 orang pembicara dengan latar belakang berbeda. Adapun ketiga pembicara tersebut adalah Wuryono Prakoso (Yoyok) dari Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Subhan selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tangerang Selatan, dan Wanto Sugito yang merupakan calon anggota legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk Daerah Pemilihan Banten III. Serial diskusi publik tersebut merupakan pre-event dari Youth Integrity Camp yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2014 nanti.

Serial diskusi kali ini membahas tentang pentingnya peran anak muda dalam menentukan nasib bangsa dan pentingnya meningkatkan partisipasi publik terutama pemuda dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilu tahun ini. Pak Yoyok dari Divisi Litbang KPK mengatakan, “Pemuda memegang peranan yang sangat penting karena pemuda akan menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, pemuda harus menggunakan hak pilihnya karena akan menentukan keadaan negara di kemudian hari.” Senada dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Pak Yoyok, Wanto Sugito menyatakan bahwa pemuda memegang peranan penting dalam menentukan nasib bangsa. Ia mengatakan “Pemuda merupakan generasi yang bisa menciptakan sejarah dan pasti memiliki pemikiran-pemikiran yang revolusioner. Berdasarkan survei Indobarometer, 89% dari Daftar Pemilih Tetap merupakan pemilih berusia muda. Hal ini tentu menjadi angka yang sangat potensial.”

Meskipun secara numerik jumlah tersebut sangat besar dan potensial, pada kenyataannya tingkat partisipasi pemilih muda dalam pemilu masih rendah. Hal ini salah satunya disebabkan karena maraknya pemberitaan tentang kasus korupsi di media massa. Survei yang diluncurkan oleh KPK menyebutkan bahwa lembaga terkorup di Indonesia yang menduduki peringkat teratas di antaranya adalah partai politik dan lembaga parlemen. Hasil survei ini juga menjadi alasan menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan lembaga parlemen yang akhirnya berimbas pada menurunnya tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu. Pak Yoyok juga mengatakan, “Wajar jika angka partisipasi publik dalam pemilu sangat rendah, karena kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga tersebut (partai politik dan lembaga parlemen –red) juga menurun. Namun demikian, masa depan negeri ini kita yang menentukan. Jika salah dalam memilih atau bahkan memilih untuk golput, maka jangan salahkan jika negeri ini akan semakin terpuruk dan dosanya akan menjadi dosa kolektif bangsa Indonesia.”

Menurunnya tingkat partisipasi publik (terutama pemilih berusia muda) dalam pemilu ini tentu sangat mengkhawatirkan. Ketua KPU Kota Tangerang Selatan, M. Subhan mengatakan bahwa peningkatan partisipasi publik dalam pemilu menjadi sangat penting karena 5 menit dalam bilik suara akan menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan. Oleh karena itu, penggunaan hak suara dalam pemilu menjadi sangat penting. Ia juga menekankan bahwa KPU telah mengeluarkan sejumlah paket peraturan kebijakan yang akan memudahkan akses bagi seluruh entitas masyarakat ketika penyelenggaraan pemilu. Salah satunya adalah dicantumkannya asas aksesibilitas dalam asas pemilu oleh KPU untuk memfasilitasi hal tersebut. “Asas aksesibilitas memudahkan masyarakat yang difabel dan lansia untuk memilih. Selain itu, sosialisasi juga banyak dilakukan oleh KPU untuk membantu dalam meningkatkan partisipasi publik, terutama pemilih yang berusia muda.”

Dari sudut pandang sebagai kader dari partai politik, Wanto Sugito menyatakan bahwa meningkatkan partisipasi publik dalam pemilu menjadi tugas yang sangat besar baginya dan bagi partainya. Ia juga mengatakan bahwa proses kaderisasi oleh partai menjadi sangat penting untuk menghasilkan kader yang berkualitas. “Siapapun kader dari partai yang dicalonkan sebagai pejabat publik dan anggota legislatif, jika ia sudah memegang jabatan tersebut maka kebijakan yang dihasilkan harus sesuai dengan ideologi dan cita-cita negara.” Menurutnya, caleg muda perlu tampil dalam ruang publik untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya korupsi, bahwa korupsi merupakan kejahatan yang besar karena bisa merusak masa depan bangsa. Tentu hal ini harus disertai dengan komitmen yang kuat untuk menjaga integritasnya.

Pada intinya, penggunaan hak pilih dalam pemilu sangat penting. Jumlah pemilih berusia muda yang cukup besar menjadi sangat potensial untuk menjadi suatu momen pencipta perubahan jika partisipasi pemilih berusia muda dalam pemilu dapat ditingkatkan. Kepada para caleg muda yang nantinya akan memegang kekuasaan untuk mengambil keputusan, perlu ditekankan untuk menjaga integritasnya dalam melaksanakan tugas guna menekan angka korupsi yang telah membuat bangsa ini terpuruk dan menghasilkan kebijakan yang memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu, kepedulian anak muda terhadap pengawasan proses penyelenggaraan demokrasi (salah satunya dalam proses pemilhan umum) perlu ditingkatkan guna mengawal bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *