image

Diskusi Media “Integritas Keuangan Kandidat pada Pemilu 2014”

Tanggal 23 Februari kemarin, Transparency International Indonesia (TII) mengadakan diskusi  media yang bertemakan tentang Integritas Keuangan Kandidat pada Pemilu 2014. Diskusi media ini berlangsung di sebuah coffee shop Bakoel Koffie yang berada di Cikini, Jakarta Pusat. Dengan beberapa pembicara yaitu:

  • Ibrahim Fahmi Badoh (Program Direktur TII)
  • Veri Junaidi (DEPUTI Direktur Perludem)
  • Ade Irawan (Koordinator ICW)

Pada diskusi media kali ini, TII membahas tentang pentingnya mengetahui  asal muasal dana kampanye pada pemilu 2014 nanti. Hal ini, menurut paparan TII, sangat perlu untuk dibahas karena seringkali kegiatan kampanye yang berlangsung ini tidak diketahui dari mana sumber dananya. Terkadang sebagian dari masyarakat menerima dana tersebut tanpa meneliti lebih lanjut dari mana asal dana yang diberikan tersebut.

Pada salah satu contoh kasus yang kerap kali terjadi di Indonesia bahwa sebagian besar caleg memberikan dana pinjaman kepada masyarakat, namun dengan syarat tertentu yaitu ketika si caleg memperoleh kemenangan, maka dana pinjaman tersebut dianggap lunas. Tapi ketika si caleg mengalami kegagalan, maka dana pinjaman tersebut harus dikembalikan dengan cara mencicil.

Ada pula caleg yang melakukan kampanye dengan modus memberikan bantuan berupa mobil ambulans. Dan hal serupa berlaku, ketika caleg memperoleh kemenangan  maka masyarakat dapat menikmati dengan gratis, namun jika kalah harus dikembalikan.

Berdasarkan pengamatan TII, sebenarnya hampir seluruh masyarakat Indonesia tahu benar akan kejadian ini, namun keinginan masyarakat untuk melaporkan kejadian tersebut sangatlah rendah. Masyarakat seringkali bingung jika dihadapkan dengan kenyataan di lapangan bahwa terkadang pelaku kecurangan tersebut merupakan sanak saudara maupun kerabat sendiri.

Pernah juga ditemukan sebuah kasus kecurangan para caleg dalam berkampanye, yaitu setelah pemilih melakukan pencoblosan, maka si pemilih harus menyertakan bukti foto kepada tim sukses si caleg bahwa mereka telah memilih si caleg tersebut.

Elemen masyarakat dapat melakukan pencegahannya dengan cara melarang membawa alat komunikasi apa pun atau kamera, agar tidak terjadi kecurangan dalam pelaksanaan pemilu.  Permasalahannya di sini adalah para caleg tersebut menggunakan dana yang tidak sedikit dan seringkali tidak diketahui secara benar sumber dananya. Hal ini juga bisa menjadi pemicu mereka suatu saat nanti ingin memperoleh “modal” mereka kembali dengan cara korupsi.