source: wepeku.wordpress.com
source: wepeku.wordpress.com

Pelecehan di Tempat Umum, di Mana Sisi Kemanusiaan Kita?

Berbagai peristiwa pelecehan di tempat umum seringkali terjadi. Yang biasanya menjadi korban adalah pihak perempuan. Buruknya fasilitas transportasi di ibukota menjadi pemicu. Berbagai interaksi tidak langsung sering terjadi di bis-bis kota yang sudah rongsok dan semestinya diganti.

Pada hari selasa lalu, tepatnya tanggal 11 Februari 2014. Dalam perjalanan penulis pulang ke rumah penulismenyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang pria paruh baya membentak-bentak seorang gadis berusia sekitar 20 tahun di dalam kopaja yang sedang penuh penumpang. Pria tersebut marah-marah dan mengancam akan melaporkan si gadis ke kantor polisi karena si pria itu merasa difitnah dan dipermalukan. Memaksa si gadis untuk memberikan KTP dan nomor telepon sambil memukul-mukul kursi. Semua penumpang yang ada di bis kota menjadi saksi. Namun tidak ada satupun yang bertindak untuk menghentikan ulah bapak-bapak itu. Hal itu juga yang penulis sesali, kenapa penulis terlalu takut untuk sekedar menegur pria itu agar menghentikan ulahnya membentak-bentak gadis yang berkali-kali minta maaf itu.

Sepanjang lampu merah di perempatan Mampang Prapatan, Bapak itu terus saja menagih KTP bahkan mendesak gadis itu datang ke rumahnya untuk dilaporkan pada polisi. Usut punya usut rupanya si gadis yang duduk di dekat jendela itu meminta si bapak agar jangan duduk terlalu mepet padanya. Namun reaksi bapak itu malah marah-marah dan merasa difitnah. Bahkan meski gadis itu minta maaf berulangkali dan tidak lagi duduk di sebelahnya melainkan berdiri di bagian depan bis kota, bapak itu terus saja mencecarnya dengan kata-kata kasar dan mengancam. Sampai kondektur bis pun merasa kesal dibuatnya.

Seyogyanya, jika memang bapak itu berhati besar dia bisa menerima permintaan maaf dari gadis yang duduk di sebelahnya dan bisa melanjutkan perjalanan di bis kota dengan tenang. Bukan malah membuat keributan dan ketegangan di dalam bis dengan tingkah lakunya yang berteriak dan membentak si gadis di hadapan semua orang.

Hal yang terjadi di atas merupakan potret buram kondisi di Ibukota Jakarta dimana orang-orangnya menjadi cepat tersulut amarah. Dan juga sikap acuh seluruh penumpang bis yang membiarkan si gadis menerima perlakuan kasar dari bapak tersebut membuat kita merasa miris. Mungkin penumpang yang lain tidak mau terlibat masalah sehingga tidak berbuat apa-apa, meskipun penulisyakin seyakin-yakinnya bahwa semua orang yang hadir di sana merasa gerah dengan tingkah bapak-bapak itu.

Kita juga sering mendapati, orang-orang berebut kursi di bis kota atau transjakarta demi mendapatkan kenyamanan selama perjalanan. Tak peduli bahwa yang berdiri di depannya adalah lansia atau perempuan yang membawa anak kecil. Di kerasnya ibukota ini, kita belajar untuk menjadi orang egois yang mementingkan diri sendiri. Seperti kasus yang penulis ceritakan di atas, tidak ada satupun orang yang tergerak untuk menegur bapak-bapak tersebut. Semua memilih diam dan tak mau ikut campur. Memperlihatkan betapa sisi kemanusiaan kita benar-benar telah terkikis di sini.

Pada akhirnya, kita harus mempertanyakan. Dimana sisi kemanusiaan kita saat melihat pelecehan sedang terjadi di tempat umum seperti itu dan kita memilih diam?

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *