source: www.zizau.com
source: www.zizau.com

Cinta Jujur: Jujur (Ber)Cinta

Cinta tidak terletak pada manisnya kata, puisi dan prosa. Cinta adalah tanggungjawab penuh pada komitmen yang telah dijalani. Cinta juga mengajarkan kita untuk menahan egoisme diri ~ Lia Toriana, 7/5/2012

Mencintai. Ada beberapa yang tersenyum, mengiyakan. Mungkin, ia sedang dalam fase mencintai (dan dicintai) seseorang. Sisa reaksi yang lain bisa jadi kecut. Pahit. Mencintai tapi bertepuk sebelah tangan. Galau. Atau situasi lain memungkinkan seseorang mencinta, tapi…bukan dengan orang yang tepat. Apa maksudnya?   Cinta semestinya membebaskan. Itu salah satu prinsip saya. Belajar, tertatih, jatuh dan bangkit dalam cinta. Kalau kata mereka, “been there done that”. Semestinya kita bisa lebih luwes dalam mencinta dan siap jika ada hal yang tidak sesuai harap. Tapi jika hal tidak sesuai harap diupayakan dengan ketidakjujuran, apakah ia bisa membebaskan? Definitely, NO! Tidak ada hal yang membebaskan jika kita berbohong. Diliputi rasa was-was, panik tidak perlu, dan drama murahan adalah sedikit dari dampak yang bisa kita rasakan.

I am free-thinker, I don’t mind poly-amore ~ “Saya seorang yang berpikir bebas, saya tidak mempersoalkan relasi dengan banyak orang (laki-laki/ perempuan” , ujar seorang kawan dalam perbincangan beberapa malam lalu. Saya setia mendengarkan. Tidak bermaksud menentang aspirasinya di awal. Biarkan diskusi mengalir. Lalu saya refleksikan dengan pengalaman saya. Sepanjang saya belajar mencinta, sakit rasanya dikhianati. Pernah merasakannya juga, bukan? Syukur Alhamdulillah, jika belum pernah. Tapi Demi Tuhan, rasanya tidak enak. Marah, kesal, murka, benci, dendam. Campur aduk. Ya, kita bisa membenci orang yang kita cintai. Tetapi sesaat dia berkhianat, semua bisa berubah 180 derajat.   KECUALI, Masih ada maaf dan janji memperbaiki relasi. Itu pun, dilakukan dengan komitmen tinggi tanpa kompromi. Jika ya kita yang berbuat salah, akui dan ucapkan maaf dengan tulusnya hati. Tapi, jika kesempatan berubah terlewati, jangan pernah sesali di kemudian hari.

Maka, apakah berelasi dengan bukan pasangan kita menjadi salah? Saya bukan Tuhan yang berhak memutuskan benar atau salah. Satu hal yang saya tahu pasti, hal itu TIDAK MANUSIAWI. Ada rasa yang terkoyak. Hati yang hancur.   Tapi, selama si pasangan tidak tahu, bagaimana? Maka, itu adalah bentuk cinta yang TIDAK MEMBEBASKAN. Membebaskan dari rasa takut, dari rasa bersalah, dari rasa menyakiti. Itu semestinya cinta berlaku. Apakah dengan mengendap-endap, ‘bermain’ di balik layar, kita akan aman dari pantauan pasangan? Bukan hanya itu persoalannya. Saat kita menutupi sesuatu, saat itulah kita tidak bebas. Tidak apa adanya.   Kami masih berpacaran, belum menikah. Tidak perlu serius lah. Bohong-bohong sedikit boleh. Silahkan! Asal itu adalah kesepakatan kedua belah pihak. Dan tujuan relasi memang hanyalah having fun.

Pastikan saja: 1. Tidak memberi harapan pada orang tua pasangan bahwa kamu pribadi yang serius (hanya ingin “main-main” kan?”), 2. Tidak perlu pasang status in a relationship di sosial media, ngerakeun! Alias malu-maluin. Masa’ mempermainkan perasaan orang lain masih bangga pasang status “jadian”? Dan yang ke-3, jangan pernah menjanjikan apapun kepada pasangan selama kamu belum bisa menjanjikan apapun pada hatimu.

Cinta adalah (juga) soal KEYAKINAN hati.

Kita pasti pernah kesal dengan pasangan yang telat datang atau bercanda menyinggung hati. Bicarakan. Komunikasikan. Ingat, pasangan kita bukan Mama Lauren yang bisa baca pikiran kita. Yakinkan diri kita dan pasangan bahwa apa yang kita jalankan ada jujur dari hati. Tidak ada manipulasi.

Karena, Cinta Jujur adalah wujud Jujur dalam (Ber)cinta.

Sharing is caring!
Share on Facebook85Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *